Otobiografi Fauziyyah Fadiyah

Masa Kelahiran...



Hari Sabtu, 23 Desember 1995, seorang Ibu sedang mempertahankan nyawa seorang bayi kecil. Telah terjadi komplikasi saat proses melahirkan terjadi, dimana leher bayi kecil itu terlilit tali pusar. Terbukti memang, bayi kecil itu sangatlah lincah sampai terlilit tali pusar. Dokter Emma menyuruh Ayah bayi itu untuk menunggu di luar, dengan begitu cemas. Perjuangan dan kasih sayang Ibunda yang tak berbatas, membuahkan hasil. Hari yang begitu indah bagi pasangan Muhamad Komarudin dan Farida Yuniarti. Matahari masih bersembunyi dibalik belahan bumi lainnya, tepatnya pukul 04.05 telah lahir bayi perempuan pertama mereka di “Clinic Bersalin Dr. Emma” (Jl. Sumatera – Bandung). Bayi perempuan itu adalah penulis.  Penulis kecil lahir dengan sehat, berbobot 3,9 Kg dan panjang 51 cm. Bayi itu diberi nama Fauziyyah Fadiyah.

Nama penulis begitu bermakna dan berarti bagi orangtuanya. Nama seorang anak adalah harapan bagi orangtuanya. “Fauziyyah Fadiyah” adalah nama yang berasal dari bahasa arab. Penulis memang masih memiliki darah arab dari sisi Ibunda. “Fauziyyah” berarti kemenangan atau cerdas, dan “Fadiyah” berarti menyelamatkan. Ternyata pemberian nama itu sendiri memiliki arti tersendiri bagi orangtuanya. Penulis lahir pada masa dimana Ayahanda baru saja mengundurkan diri dari pekerjaannya. Membuat orang-orang disekitarnya bertanya-tanya. Beliau menjawab, bahwa ia tidak srek dengan pekerjaannya. Dimana ia tidak merasa leluasa dalam beribadah maupun bertemu dengan keluarga. Beliau menginginkan keselamatan dunia akhirat, baginya serta keluarga. Jawaban itu tersirat dalam nama penulis. Orangtua penulisan memberikan nama “Fauziyyah Fadiyah” yang berarti kemenangan yang membawa keselamatan, sebagai sebuah harapan agar anak perempuannya cerdas, yang akan membawa keselamatan dan ridha-Nya di kemudian hari. 

Penulis tumbuh dengan begitu cepat. Badannya yang montok dengan mata yang bulat dan besar, memiliki wajah ke-arab-an, dengan kulitnya yang putih dan rambut ikalnya. Memang benar, penulis begitu lincah, pertumbuhannya juga begitu cepat. Baru saja berumur 3 bulan, ia sudah mulai bercakap-cakap, walaupun hanya patahan ucapan yang tidak begitu jelas. Baru saja 3 bulan, ia sudah seperti berumur 1 tahun. Anehnya lagi, pada umur 7 bulan, tidak sempat lagi merangkak penulis sudah bisa berjalan. Begitu pesat pertumbuhannya.

Rumah penulis pada saat itu berada di Jln. Suaka No. 31, Leuwi Gajah, Cimahi-Bandung. Nenek dan Ibu penulis merupakan instruktur senam. Setiap Hari Selasa dan Kamis, diselenggarakan kelas senam secara rutin di ruang senam/sanggar rumah tersebut. Ruangan itu dipenuhi Ibu-ibu sekitar bila sudah pada saatnya. Bila sudah selesai, penulis kecil masuk ke sanggar dengan tubuhnya yang montok dan rambutnya yang ikal, menyapa Ibu-ibu yang masih basah dengan keringat. Penulis masih berumur 1 tahun pada saat itu, tetapi sudah tidak aneh baginya berceloteh di depan mereka. Ngobrol katanya.

Penulis kecil baru berumur 3 tahun. Melihat perkembangannya yang pesat, orangtua penulis memasukkan penulis kecil ke Play Group Pandiga Mutiara , karena umur penulis belum cukup untuk memasuki Taman Kanak-kanak. Penulis kecil memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar dibandingkan dengan anak-anak seusianya.


Penulis sudah menunjukkan kecintaannya terhadap seni dan fasion sejak kecil. Itupun semua turunan dari sang Bunda. Dahulu Ibunda penulis sempat menjadi model, dan juga berangan sebagai perancang busana pada masa mudanya. Walaupun angan beliau tidak tersampaikan, Ibunda penulis tetap berpakainan secara serasi dan modis, termasuk dengan mendadani puteri satu-satunya itu. Tidak mengerti apakah bawaan atau didikan, penulis sangat mencintai seni dan tata busana, hingga sekarang.



Masa SD...

Waktu itu Ibunda penulis sedang mengandung bayi laki-laki berusia 8 bulan, tanpa dampingan Ayahanda penulis yang sedang melanjutkan pendidikan doktornya di Inggris.  Saat-saat kelahiran semakin mendekat. Ayahanda akhirnya pulang ke tanah air untuk mendampingi Ibunda penulis yang akan melahirkan seorang adik laki-laki untuk penulis ke dunia ini. Nama bayi laki-laki itu adalah Muhammad Fikri Fakhruddin. Ayah penulis akhirnya memutuskan untuk membawa bersama Ibunda, adik, serta penulis ke Inggris, menghidupi sambil melanjutkan sekolah beliau.


Penulis baru berumur 3 tahun pada saat itu. Bepergian dengan pesawat terbang bukan sebuah ketakutan bagi penulis, melainkan sebuah kesenangan. Perjalanan yang begitu panjang untuk sampai ke Inggris, menghabiskan kurang lebih 30 jam, dengan transit pertukaran pesawat di Changi Airport, Singapur. Menghabiskan waktu sehari semalam dalam pesawat terbang begitu melelahkan. Penulis yang lincah ini tidak bisa diam, lari kesana kemari di dalam pesawat, tidak seperti adik bayinya yang  Ayahanda telah menyiapkan segala kebutuhan kehidupan di Manchester. Beliau bahkan sudah mendapatkan tempat untuk penulis sekeluarga. Rumah itu terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama disewakan oleh pemiliknya kepada imigran maupun mahasiswa dari berbagai negara, seperti di lantai 3, terdapat keluarga yang berasal dari Malaysia juga seorang mahasiswa yang sedang bersekolah di Inggris. Mereka memiliki 2 orang anak, berteman akrab dengan penulis.


Penulis saat itu masih kecil, tetapi satu yang ia ingat bahwa ia berada di tempat yang sangat jauh dari Bib dan Baba. Isak tangis seorang balita itu kemudian mereda setelah ibunda menenangkan hatinya.
diam tertidur lelap. Setelah beberapa lama, penulis kecil pun merasa lelah, dan akhirnya tertidur di kursi penumpang. Udara di pesawat begitu dingin karena penyejuk udara menyebabkan penulis kecil mengompol di kursi penumpang dalam pesawat.

Sampailah keluarga penulis di Heathrow Airport, London. Perjalanan ternyata masih jauh. Jarak dari London menuju Manchester kurang lebih 336 Km. Penulis dan keluarga kemudian menaiki kereta bawah tanah untuk sampai ke Manchester.

Saat penulis tiba di Manchester, Ayahanda langsung mencarikan sebuah kursi untuk putrinya di beberapa sekolah. Periode sekolah di Inggris berbeda dengan di Indonesia dimana tahun ajaran baru dimulai pada Bulan September. Sayangnya pada saat itu tahun ajaran baru masih beberapa bulan yang akan datang.

Bulan-bulan tersebut sudah terlewati, penulis yang saat itu usianya mulai mendekati 4 tahun, selang beberapa bulan. Ia mendapatkan kursi di sebuah sekolah yang tidak begitu jauh dari rumah, Cheetham CofE Community School.


Cheetham CofE Community School adalah salah satu sekolah negeri di Cheetham Hill. Sekolah-sekolah negeri di Inggris kebanyakan berada di bawah yayasan gereja, termasuk Cheetham CofE Community School. Tetapi memang takdir, saat penulis bersekolah di sana, kepala sekolah Cheetham CE adalah Satu tahun kemudian, penulis naik tingkat. Ia sudah tebiasa dan mulai mandiri. Class 10, kelas yang saat itu di duduki oleh penulis. Cheetham CE memiliki tingkatan kelas mulai dari yang terkecil yaitu seorang mualaf, beliau adalah Mr. Paul Barnes. Mr. Paul merubah Cheetham CE jadi bercorak Islam, dimana murid-murid yang beragama Islam untuk shalat dzuhur di sekolah. Makan siang di kantin sekolah juga tersedia menu halal.


­­Penulis yang masih berumur 6 tahun. Guru yang membimbing penulis melihat daya tangkap penulis yang cepat, serta cara berpikir penulis yang melebihi usianya. Akhirnya, tahun ajara berikutnya penulis dimasukkan ke Class 7, yang diperuntukkan bagi siswa yang berada di Year 3 (kelas 3) padahal ia masih Year 2.

Tahun ke-4 penulis berada di Inggris, artinya sekolah sang Ayah sebentar lagi akan usai. Beliau beserta Ibunda kemudian memutuskan untuk mengirim pulang penulis, adiknya, serta Ibunda. Juga dikarenakan sang Ibunda yang sedang mengandung putra ketiganya, dimana waktu kelahiran sudah semakin dekat. Sang Ayah tetap tinggal untuk melanjutkan sekolah yang sebentar lagi akan usai.

Penulis yang sudah memasukki kelas 2, saat itu mendapatkan kursi di SD Islam Nur Al-Rahman, Cihanjuang. Sayangnya, karena guru takut penulis tidak bisa menangkap kurikulum kelas 2 pada saat itu, akhitnya penulis diturunkan kembali ke kelas 1.

Penulis memang sedikit malu dengan lingkungan baru. Cara mengatasinya adalah dengan mengikuti guru Bahasa Inggrisnya, karena merasa lebih sinkron saat berbincang. Kemana guru itu pergi, selalu diikutinya. Mrs. Firda Yunita namanya. SDIT Nur Al-Rahman memiliki guru-guru yang ramah, mendidik anak dengan bebas bereksplorasi. Saat itu Nur Al-Rahman batu dibangun, dimana ia baru memiliki 4 generasi, dan generasi tertua adalah murid kelas 4. Kelas-kelas di atasnya akan dibangun seiring dengan kenaikan kelas mereka.

Penulis bersekolah di Nur Al-Rahman selama tiga tahun. Saat Ayahanda penulis pulang ke Indonesia, mereka memutuskan untuk pindah ke Lampung, karena memang di sini mereka memutuskan untuk bertempat tinggal. Ayah penulis sebenarnya sudah memiliki rumah di Bandar Lampung, yang kemudian di sewakan saat beliau pergi melanjutkan sekolah ke Inggris. 

Penulis yang baru saja memenuhi kenaikan ke kelas 4 harus pindah ke Lampung bersama orangtuanya. Orangtuanya sudah menyiapkan segala keperluan serta mendaftarkan penulis ke sekolah barunya, SDS Al-Kautsar. Saat penulis dan kelurga pindah ke Bandar Lampung, seluruh keluarga Assagaf ikut mengantarkan mereka. Seperti rombongan konvoi, kami berkendara menggunakan mobil.

Tiba saatnya keluarga penulis pulang ke Bandung. Penulis yang merupakan cucu kesayangan sang Baba, memeluknyabegitu erat sambil terisak-isak, seperti perasaan tidak akan bertemu lagi.

Ternyata benar, perasaan penulis waktu itu benar. Tiga hari kemudian orangtua penulis mendapat kabar bahwa Bib, Baba, dan sepupu penulis mengalami kecelakaan lalu lintas. Hal ini menyebabkan Baba meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Rasa kaget, sedih, kecewa, amarah, dan lainnya bercampur satu dalam hati penulis. Sore itu juga, penulis dan keluarga berangkat menuju Bandung. Penulis yang shock saati itu tidak dapat menahan rasa sedihnya, mengalirkan terus air mata ke pipinya.

Tingkat kerjainan penulis meningkat saat ia mulai memaski kelas 6. Nilainya tinggi-tinggi, yang ia siapkan untuk memasuki sekolah menengah pertama terbaik di Bandar Lampung. Penulis tidak pernah mendengar nama sekolah tiu sampai seorang teman menyinggungnya. SMP Negeri 2 Bandar Lampung. Di mata penulis SMP tersebut merupakan yang terbaik, tidak pernah ia mengenal yang lain. Ayahanda sangat mendukung keputusan penulis, dan langsung memasukkannya ke bimbingan intensive. Berkat giatnya penulis, semua itu tercapai. Dengan nilai rata-rata dan tekad yang tinggi, penulis berhasil mendapatkan kursi di SMPN 2 tersebut.


Masa SMP...

SMP merupakan sebuah langkah yang besar bagi penulis. Masa-masa penulis menemukan sahabat-sahabat, mengembangkan kemampuannya.  Tetapi penulis mengalami beberapa langkah mundur dalam kehidupan. Kurang bereksplorasi, kurang berani mengungkapkan ekspresinya. Penulis saat itu masih bingung dengan keputusan-keputusan. Tidak tahu apakah belum siap atau belum mengerti. Satu-satunya usaha penulis dalam mengembangkan kemampuannya adalah dengan mengikuti pentas seni yang diadakan setiap tahun pada acara pelepasan siswa kelas 9. Tetapi usahanya belum cukup dimana beberapa temannya kurang setuju dengan penulis sebagai perwakilan kelasnya dalam pentas seni tersebut. Halini menyebabkan penulis semakin terpuruk.

Pada tahun kedua penulis bersekolah di SMP, ia menemukan 3 orang sahabat yang sangat berarti dalam hidupnya. Kemana mereka bermain, pasti tidak ada satu yang tertinggal. Begitu juga dengan memasuki ekstrakulikuler yang sama, bridge. Bridge adalah olahraga otak, yang dimainkan menggunakan kartu, tetapi bukan judi. Bagi penulis ekskul tersebut adalah ekskul yang paling berarti baginya.

Bagi penulis tahun kedua itu juga merupakantahun yang sangat berharga, tahun dimana ia mulai belajar memainkan gitar. Di SMP Negeri 2 Bandar Lampung, bermain gitar sudah menjadi kurikulum pada pelajaran seni musik. Sebenarnya penulis memang sudah mengagumi alat musik yang satu ini sejak lama. Seiring waktu, penulis menjadi lebih eksploratif. Mempelajari cara permainan gitar dengan tekun, juga dengan cara-caranya sendiri. Di kelas 8 RSBI 3, kelas penulis pada saat itu, ia dan salah satu sahabatnya termasuk orang yang paling aktif dalam bermain gitar. Tekadnya kemudian terbukti dalam pentas seni tahun itu. Penulis, sahabatnya, dan beberapa temannya kemudian menjadi perwakilan dari kelas tersebut untuk pentas di PenSi tahun itu, dimana penulis dan sahabatnya mengiringi beberapa temannya mengalunkan nada merdu dari bibir mereka. Memang bagi penulis ini belum cukup, karena keinginannya untuk bernyanyi jauh lebih besar dari keinginannya bermain gitar. Tetapi penulis pada saat itu belum mengetahui hal tersebut.

Tekadnya akan menyanyi yang ciut ini disebabkan oleh beberapa temannya dulu saat penulis masih berada di sekolah dasar. Suara alto sang penulis yang memang terdengar berat dan khas saat itu diremehkan teman-temannya. Bagi mereka suara penulis tidak pantas diperdengarkan dan sangat aneh. Setelah hari itu penulis menyembunyikan kemampuannya.

Penulis dan beberapa sahabatnya kemudian mengambil keputusan untuk membuat sebuah band amatir yang menampung talenta yang terabaikan. Dengan membuat beberapa video yang menunjukkan kemampuan mereka, yang kemudian di masukkan ke dalam situs jejaringan dalam dunia maya.

Tahun itu adalah tahun terakhir penulis bersekolah di SMP Negeri 2 Bandar Lampung. Sengan mewujudkan kecintaannya terhadap bernyanyi dan bermain gitar, penulis mengumpulkan beberapa temannya untuk menjadi perwakilan dari siswa RSBI yang akan lulus di PenSi tahun kelulusan mereka. Penulis yang saat itu ingin sekali membuktikan kebolehannya telah berhasil untuk mengungkapkannya.

Penulis lulus dari sekolah menengah pertama dengan nilai yang bagus. Seperti halnya saat penulis masuk SMP, pada saat itu pebulis hanya tahu satu sekolah, yaitu SMA Negeri 2 Bandar Lampung.


Masa SMA - Sekarang...

Penulis kemudian masuk ke sekolah menengah atas yang ia idam-idamkan. Penulis kemudian bertekad mulai saat itu untuk mengembangkan kemampuannya dan terus berkreasi. Perjalanan penulis untuk mencapai cita-citanya masih jauh. Masih banyak halangan dan rintangan bagi penulis untuk mencapai impiannya. Tetapi penulis yang berteguh untuk terus meraih, dan menjadi anak yang bisa membanggakan kedua orangtuanya, ia tidak akan menyerah.






0 comments:

Post a Comment